Senin, 17 Agustus 2009

Laki-Laki Paling Kucintai Sedunia

“Dewi, ayo bawa sini bolanya! Kita main lagi.” panggil ayahku dari kejauhan
“iya ayah.” jawabku sambil mengambil bola dan berjalan menuju tempat ayahku berdiri.
Kemudian aku dan ayahku bermain lempar bola. Tak terasa aku dan ayahku bermain cukup lama sampai sore pun tiba.
“ayo nak kita kembali kerumah.” Kata ayahku
“ayo!” jawabku

Kami berdua pun berjalan pulang. Tak jauh dari tempat bermain itu, aku pun terjatuh. Kedua lututku luka, dan aku menangis kencang karena kesakitan. Ayahku panik, karena melihat lukaku yang cukup parah. Dia langsung menggendongku pulang kerumah. Sesampainya dirumah, aku dibaringkan di sofa yang berada di ruang tv. Ayahku segera menuju tempat obat-obatan dan mengambil obat merah juga plester. Lalu dia membawanya ke ruang tv, tempat aku berbaring. Kemudian dia mengobati lukaku dan menutupinya dengan plester. Walaupun luka itu sudah ditutupi plester, aku terus menangis kesakitan. Ayahku menenangkanku dengan canda seperti biasa. Rasanya aku ingin tertawa, tetapi aku juga merasakan keperihan luka yang ada dilututku ini. Beberapa hari kemudian kedua lututku pun sembuh, dan aku dapat bermain ditaman bersama ayahku lagi.

Hari-hari berlalu begitu cepat, tidak terasa sekarang aku sudah memasuki sekolah dasar. Pada minggu pertama aku sekolah, aku tidak terlalu bisa menjalani pelajaran. Tetapi ayahku terus berjuang untuk mengajariku, sehingga aku menduduki peringkat pertama di kelas. Ayahku begitu bangga kepadaku. Setiap hari ayahku selalu mengajariku belajar, supaya aku semakin pintar dan mempunyai wawasan yang luas. Walaupun begitu, aku tidak bisa bergaul dengan teman-temanku. Mereka semua selalu menjauhiku dan meledekku. Tidak ada satu orang pun yang mau berteman denganku. Padahal aku tidak pernah melakukan kesalahan kepada mereka. Setiap pulang sekolah ayahku selalu menghiburku, supaya aku tidak bersedih. Hanya ayahkulah yang bisa menjadi temanku saat itu. Tahun-tahun kulewati dengan menyenangkan bersama ayahku. Ayahku adalah orang baik yang pernah kutemui, dia tidak pernah memarahiku, dia selalu menyayangiku. Kalau aku ada masalah, dialah orang yang membantu mencari solusinya. Saat itu aku berada di kelas 6 SD yang akan mengikuti ujian akhir sekolah. Seminggu sebelum UAS dilaksanakan, ayah terus membantuku belajar supaya dapat lulus sekolah dasar dan akan melanjutkan ke sekolah menengah pertama. Hasilnya pun aku lulus dengan nilai terbaik, berkat ayah yang selalu mengajariku dari mulai aku masuk SD.
“hei, boleh aku duduk disini?” Tanya seorang perempuan
“boleh-boleh, silakan.” Jawabku
“perkenalkan, namaku Citra. Siapa namamu?” katanya sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
“namaku Dewi.” Jawabku sambil bersalaman dengannya.

Kemudian pelajaran dimulai. Aku dapat mengikuti pelajaran tersebut dengan baik dan lancar. Bel pulang sekolah berbunyi, semua anak bubar meninggalkan kelas dan sekolah.
“hai, namamu Dewi kan?” Tanya seorang laki-laki yang berada di belakangku.
Aku pun menoleh ke belakang dan berkata, “i..iya namaku Dewi, ada apa ya?”
“tidak apa-apa, namaku Angga. Aku temannya Citra waktu SD, kita pulang baeng yuk?” jawabnya
“boleh-boleh.” Kataku serempak dengan Citra

Akhirnya, sampai juga aku dirumah. Aku langsung menemui ayahku yang sedang asyik bekerja melalui laptopnya. Kemudian dia menanyai kegiatanku di sekolah, lalu aku menceritakan semuanya. Sampai-sampai aku dan ayah lupa waktu, tapi bagiku berbagi cerita dengan ayah itu sangat mengasyikkan. Malam pun tiba, aku menuju meja belajarku kemuadian mengerjakan pr yang baru saja diberikan. Beberapa soal dari pr itu ada yang tidak kumengerti, lalu aku menanyakannya kepada ayah dan ayah pun menjelaskannya sampai akirnya aku mengerti.

Hari-hari berikutnya tiba, sekarang aku berteman dengan Citra dan Angga. Kita bertiga selalu bersama. Baru kali ini aku merasakan pergaulan di sekolah, ternyata mengasyikkan sekali. Kadang-kadang aku bermain dan belajar bersama di rumah mereka. Kita berdiskusi bersama menyelesaikan masalah dalam pelajaran maupun pergaulan. 2 tahun kemudian. Sebentar lagi saatnya aku harus mengikuti ujian nasional. Aku meminta bantuan dari ayahku juga teman-temanku. Aku belajar dengan giat, dan hasilnya aku mendapat peringkat kedua nilai ujian tertinggi.
“tak apalah nak, yang peting kamu sudah berusaha. Ayah bangga denganmu!” ucap ayah
“iya, makasih ayah sudah membantuku belajar! Aku sayang ayah!” kataku
“ayah juga selalu sayang kamu nak.” Jawab ayah

Kemudian aku melanjutkan ke sekolang menengah atas. Angga dan Citra bersekolah di sekolah yang sama denganku. Selama di SMA, aku mendapat teman yang banyak sekali, pergaulan disana sangat mengasyikan daripada dulu, terutama saat SD. Berbulan-bulan setelah aku sekolah disana, Angga menyatakan perasaannya kepadaku.
“Dewi, sebenernya aku udah suka kamu dari dulu… hmm..mm…” ujar angga tergagap-gagap.
“yaaa, trus?” tanyaku
“m… mau ga kamu jadi pacar aku?” ujarnya kembali sambil berterus terang “pikirkan saja dulu, jangan terlalu buru-buru. Aku tetap menunggu kok.”
“baiklah” jawabku

Sepulangnya dari sekolah, aku bercerita kepada ayahku, dan ayahku setuju-setuju saja. Dia bilang, “yang penting Dewi bahagia sama Angga” begitulah. Keesokan harinya aku menemui Angga, lalu menjawab “ya” kepadanya. Dan hari itupun kami mulai menjalani pacaran, dan pergaulanku makin asyik, juga temanku bertambah banyak. Aku sering sekali bermain dan belajar bersama Angga sampai-sampai aku lupa waktu. setahun pun berlalu, saat itu aku berada di kelas 2 SMA. Dua minggu lagi sekolahku akan mengadakan pentas seni. Aku akan tampil menyanyikan sebuah lagu bersama band-ku. Selama dua minggu, aku terus berlatih agar dapat menampilkan yang terbaik di pentas seni nanti. Di rumah pun aku terus-terusan bernyanyi. Dua hari sebelum pentas, Angga, Pandu, Citra, dan aku berlatih di rumahku. Saat berlatih, ayah menonton kami.
“sebentar Angga, menurut om kamu memainkan kunci gitarnya kurang pas. Sebaiknya kunci C diganti dengan kunci A minor saja, bagaimana?” komentar ayah, “hmm, pandu. Permainan drum-mu sudah bagus, tapi mainnya kurang semangat nih!”
“yaaaah, ayah nih. Kita kan lagi latihan!” ujarku, “teman-teman, kita pindah yuk latihannya! Ke studio dekat sekolah aja.”

Kami pun langsung meninggalkan rumah dan menuju studio untuk melanjutkan latihan. Akhirnya, hari yang ditunggu itu tiba. Dan saatnya band-ku tampil, aku dan band-ku menampilkan penampilan yang terbaik untuk teman-teman dan semua penonton. Setelah selesai tampil,
“selamat nak! Kalian berhasil!” ujar ayah
“kyaaa! Akhirnya selesai juga!” ucapku sambil menuju teman-temanku yang sedang menonton, dan mengabaikan ayah.

Kemudian mereka semua memberiku ucapan selamat, kebanyakan yang bilang kalau band-ku tampil dengan sempurna dan sangat keren. Setelah acara selesai, aku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku melihat ayahku yang sedang tidur di sofa ruang tv. Awalnya aku mengira ayah sedang tidur. Tetapi aku heran, kenapa ayahku tidak terbangun dari tidurnya. Lalu aku mendekati ayah, dan tidak dapat merasakan nafas berhembus dari dirinya, aku panik.
“Ayah! Ayah!” teriakku sambil mengguncangkan tubuhnya sekuat tenaga.
Dan akhirnya kusadari bahwa ayah sudah pergi. Aku menangis sejadi-jadinya.
***


Tepat setahun sudah kejadian itu berlalu. Aku masih tidak bisa memaafkan diriku sendiri, apalagi perlakuanku yang begitu buruk kepada ayah di hari-hari terakhirnya.
“dew?” ibu menyadarkanku dari lamunan.
“eeh..iya, bu?” jawabku gelagapan. Semenjak kepergian ayah, aku tinggal bersama ibu-dan tentu saja dengan lelaki yang dinikahkan ibu setelah bercerai dengan ayah, sewaktu aku kecil-.
“ayo dong jangan ngelamun aja. Yang semangat belajarnya, minggu depan kan kamu akan mengahadapi ujian nasional” tegur Ibu.
“oke bu..” jawabku sok semangat.
“nah..gitu dong wi. Ibu tinggal dulu ya” ujar ibu seraya meninggalkanku sendirian lagi di dalam kamar.
***

Ujian nasional selesai hari ini. Sepulang sekolah, teman-teman mengajakku untuk jalan-jalan. Aku menolak semua ajakan itu. Aku langsung menuju ke tempat peristirahatan terakhir ayah, setelah membeli rangkaian bunga untuk diletakkan di makamnya bersama secarik kertas yang berisikan puisi untuk ayah. ~

“ Sepertinya baru kemarin aku bertemu denganmu,
Kamu mengatakan betapa bangganya kamu padaku,
Tapi aku hanya berjalan melewatimu, tak menghiraukan.
Ayah…
Andai saja aku mengetahui apa yang akan terjadi hari itu,
Andai saja aku punya satu kesempatan lagi,
Untuk melihatmu, mendengar suaramu.
Maafkan aku ayah..
Aku sayang ayah”





by; lisgumantika hasna
(sebenernya suha juga bantuin)

-ini tugasnya kakaku, tapi dia gapunya ide jadi aku yg buat-